mulai minggu kemarin, kalau zahra sudah bangun sebeleum jam 6 pagi, saya ajak dia jalan pagi. keliling 3 tower di kompleks apartemen, 3 puteran. hari pertama berkesan sekali. karena langit cerah, jadi kami masih bisa lihat dengan jelas bulan dan bintang timur sampai jam 6.20 pagi.. kadang kami berjalan, kadang kami berlari. zahra pulangnya keringetan dan langsung minta mandi. dan senangnya lagi, setelah selesai mandi, ketika saya tanya dia "tadi zahra liat apa?", dia jawab: "bulan". tanya lagi: "bulan warnanya apa?", dia jawab: "putih" :) alhamdulillah, kemampuan mengingatnya bertambah.
sekarang, kalau diajak jalan pagi dia semangat sekali :)
Jumat, 01 Juli 2011
Rabu, 29 Juni 2011
saya harus jujur (tentang menyekolahkan anak kembali)
semua orang pasti setuju. jujur itu baik, tapi tidak mudah. dan ternyata yang paling susah adalah jujur pada diri sendiri.
akhir-akhir ini saya mendapati ada yg menyesakkan dada saya.
keraguan yang teramat sangat terhadap kemampuan diri saya dalam membantu anak saya untuk memperoleh kehidupan yang baik kelak di masa depan nanti.
selama ini, anak saya yang autistik (8 tahun 1 bulan), bukannya tidak mendapat treatment apa-apa. ada beberapa terapi yang dia harus jalani, 4 hari seminggu, 2 jam per harinya. selain itu dia juga mengikuti les musik, les renang dan les lukis.
di rumah, saya sering melibatkan dia dalam aktivitas seperti memasak, mencuci piring, mencuci baju, mencuci sepatu dan merapikan tempat tidurnya.
dia tidak pergi ke sekolah manapun sejak usia 4 tahun. sejak saya putuskan untuk menangani sendiri terapi untuk zahra dengan metode glenn doman. dan dalam masalah akademis, dia bukannya tidak belajar sama sekali. saya dulu pernah mengajarnya membaca dan matematika dengan metode glenn doman. dulu saya cukup yakin kalau dia sebenarnya sudah bisa membaca dan paham konsep dasar matematika. namun ini tidak saya lakukan lagi semenjak saya sakit dan akhirnya zahra kembali ke tempat terapi dengan pendekatan lovas.
sebenarnya zahra pernah sekolah playgroup 2 kali di 2 tempat saat usianya 3 tahun dan 4 tahun. dan ia juga pernah ikut terapi dengan pendekatan floor time(sejak 1 tahun 8 bulan - 3 tahun) dan pendekatan lovaas sejak 3 tahun hingga menjelang 4 tahun. setelah itu, sejak usia 4 tahun 4 bulanan hingga 6 tahun ia melakukan terapi dengan metode glenn doman.
saat zahra sekolah dan terapi lovaas sebelum melakukan terapi glenn doman, kemajuan zahra amat sangat sedikit. entah mungkin faktor usia yang masih begitu belia mungkin juga berpengaruh signifikan. namun, setelah terapi glenn doman selama kurang lebih 1,5 tahun kemajuannya pesat sekali. dari hanya satu kata yaitu "apa" jadi satu kalimat pendek "umma zahra mau pipi(s)". walau artikulasi nya belum jelas, tapi itu sebuah lompatan besar, dalam 1,5tahun. dan kontak matanya pun bertambah banyak durasi dan frekuensinya.
saya begitu jatuh cinta dengan konsep homeschooling. saya begitu terpesona pada prinsip homeschooling yakni "belajar apa saja, di mana saja dan pada siapa pun". bagi saya ini semacam jawaban atas pertanyaan besar saya tentang beberapa keberatan saya akan sistem sekolah yang menurut saya malah membuat manusia menyempitkan hal yang dipelajari adalah sekitar apa yang diberikan di sekolah saja dan ini menurunkan gairah untuk belajar , menyempitkan ruang belajar adalah di sekolah saja, serta menganggap sumber pelajaran ya hanya guru di sekolah dan buku-buku yang direkomendasikan sekolah saja.
perbedaan besar antara kenyataan tentang sekolah yang ada dengan konsep homeschooling yang sederhana namun sangat menyentuh esensi belajar yang saya pahami, benar-benar membuat saya jatuh cinta pada HS dan menutup pintu bagi kemungkinan menyekolahkan anak saya.
ketika ada yang menawari atau memberi info tentang sekolah yang cocok bagi anak autis, saya akan mencari tahu hal apa saja yang sekolah itu ajarkan. secara umum, fokus mereka adalah mendidik anak autis untuk menjadi personal yang mandiri dalam artian dapat membantu dirinya dalam aktivitas sehari-hari seperti makan, mandi, berpakaian, merapikan diri dan lain sebagainya. beberapa sekolah juga menawarkan akan mengajarkan aktivitas life skill seperti memasak, mencuci pakaian, memotong rumput dan lain sebagainya.
untuk segi kognitif, secara umum sekolah-sekolah itu juga menargetkan akan mengajar anak autis membaca dan berhitung. dan pada sekolah inklusif menargetkan anak autis akan dapat mengikuti pelajaran sebagaimana yang diterima oleh anak "normal" sebayanya. konsekuensi dari target ini adalah si anak autis akan di-drill semaksimal mungkin agar dapat mengejar ketinggalannya. ya, anak autis memang tidak jarang lebih tertinggal di banding anak normal, hal ini dikarenakan memang anak autis umumnya agak sulit pada "entry point"nya. jadi diperlukan sekali remedial(pengulangan pemberian materi).
selain itu, saya juga beberapa kali mendengar penuturan pengalaman tentang bagaimana anak autis adalah korban "bully" yang paling enak di sekolah-sekolah.
inilah yang paling membuat saya ngeri dan sama sekali tidak mau mengambil resiko ini. katanya, jangnkan di sekolah negeri yang bayarannya relatif lebih murah, anak autis yang sekolah di sekolah swasta dengan kualitas internasional (baca: bahasa pengantar bahasa inggris dan bayaran yang super mahal) saja ada saja kasus bully terhadap anak autis nya...
tambah lagi, dengan realita betapa carut marutnya kondisi sistem pendidikan indonesia, yang begitu orientasi pada hasil akhir yang notabene hanya didasarkan pada yang namanya ujian beberapa hari, kecurangan terorganisir yang dianggap lazim serta mulai kelihatannya generasi muda yang kurang kreatif dan tidak terlalu tahu kemahiran unik yang sebenarnya pasti mereka miliki namun tidak sempat tergali karena gaya hidup yang terlalu terorientasi pada pencapaian nilai bagus di sekolah, ini semua benar-benar membuat saya yakin bahwa sekolah itu jauh dari masa depan yang bahagia. malah cenderung suram.
tidak ada ruang untuk sekolah di hati saya
toh, ternyata dengan tidak sekolah selama ini, anak saya mampu melakukan hal-hal yang menjadi materi sekolah untuk anak autis itu. dia bisa melakukan mandiri kegiatan mandi, makan, berpakaian, menyisir, mencuci sepatu, mencuci piring, merapikan tempat tidur, mau ikut membersihkan rumah, ikut mencuci pakaian(dengan mesin), bahkan 2 bulan yang lalu ketika pertama kali saya ajari dia menggunakan komputer, dia bisa saya ajari, dia kini bisa bermain sekitar 6 macam games di komputer. jadi anak saya ternyata bisa kan tanpa sekolah?
saya yakini terus hal itu. pasti bisa. saya hanya perlu mengajarinya dengan rutin.
ya, saya yakin.
tapi, ada hal lain yang sebenarnya selalu terlihat di depan mata saya namun mungkin karena kepala saya sudah terlalu penuh dengan pemikiran "betapa anak saya dan saya mampu"..jadi saya menyisihkan permasalahan ini.
anak saya butuh teman. teman untuk bermain atau pun bertengkar.
dia autis, punya masalah partikular dengan yang namanya komunikasi. vocab nya masih sangat terbatas, artikulasinya masih jauh dari jelas. yang ujungnya, masih sering frustasi karena maksud hatinya sering tidak tersampaikan.
jenis anak semacam ini, tentu saja tidak mudah diterima. terkadang yang tidak dapat menerinya adalah anak sebayanya, namun tidang jarang juga orang tua anak lain lah yang tidak dapat menerima anaknya bergaul dengan anak autis.
berhubung saya selalu yakin, bahwa anak adalah refleksi dari orang tuanya, maka saya pikir yang lebih menentukan adalah faktor orang tuanya. jika ada anak tidak mau menerima/memandang aneh/menganggap nakal/mencemooh anak autis, namun orang tuanya yang baik hati dan pintar dan bermoral tinggi dapat mengarahkan si anak dengan menjelaskan padanya cara menerima perbedaan, pasti anak itu akan dapat dan mau belajar cara menerima dan perduli terhadap anak autis. jadi kuncinya di orang tua.
ternyata, cari model orang tua yang seperti ini susah-susah gampang ya :)
butuh pola pikir tertentu untuk bisa menerima tentang anak autis jika orang tersebut tidak memiliki anak autis. orang tersebut harus open minded tehadap perbedaan, cerdas, perduli, tidak sombong, dan suka belajar hal baru.
nah, semua ciri ini dapat dengan mudah saya temukan pada orang-orang yang menyukai homeschooling, baik yang selaku praktisi homescooling mau pun yang sekedar mencintai konsep HS namun belum berkesempatan mempraktikkannya.
inilah komunitas yang saya cari. orang-orang open minded, cerdas, suka belajar dan rendah hati :)
dan benar saja dugaan saya, anak-anak mereka adalah refleksi orang tua mereka. cerdas, antusias belajar, dan fleksibel terhadap perbedaan. :)
saya senang sekali bersama mereka. anak saya juga terlihat nyaman. suami saya pun kagum dengan keluarga-keluarga homeschooler.
tapi sayang, kebersamaan kami terhitung jarang karena memang tidak memungkin kan untuk rutin bertemu setiap hari dikarenakan faktor jarak dan program kegiatan kami masing-masing. yah, mau bagaimana lagi.
sementara, di lingkungan apartemen kami, suasananya tergolong individualis. adapun anak2 yang sering kami temui di playground umumnya masih batita. kurang cocok buat mengasah kemampuan sosial anak saya yang hampir 9 tahun.
hal ini benar2 mengganggu pikiran saya akhir2 ini. saya lihat, zahra masih amat sangat tidak toleran dengan konsep antri, bergantian dan kepemilikan. sering ini menjadi masalah besar terutama jika di tempat umum. pernah ketika kami berada di restoran fast food, dengan lugunya zahra mengambil perkedel dari meja orang. untung saja orang tersebut menganggap hal itu bukan masalah besar, bahkan ia menganggap zahra lucu sekali karena begitu lugu. namun di waktu lain, pernah kami tidak seberuntung itu. di sebuah playground, zahra yang suka sekali bermain ayunan, tidak mau bergantian dengan anak lainnya. pertama-tama anak-anak itu mengalah, namun akhirnya mereka mengadukan zahra pada orangtua mereka yang akhirnya komplain pada saya. zahra saya suruh bergantian, namun ia malah menjerit nangis. akhirnya orang tua tsb mengajak anaknya pergi dengan wajah tidak suka pada saya dan anak saya.
biasanya, saya memang sering mengajak ngobrol orang yang berada di sekitar saya (orang tua maupun pengasuh) tentang zahra adalah autistik. saya ceritakan sesingkat mungkin tentang sifatnya yang terkesan tidak sabaran dan belum mengerti mengantri/bergantian. biasanya mereka akan mengerti dan cenderung menyuruh anak mereka mengalah pada zahra. tapi saya jadi berpikir, tidak selamanya kan kami bisa begini? zahra akan terus bertumbuh fisiknya. jika dia sudah berukuran anak abg namun masih tidak mengerti cara antri, dan bergantian, pasti dia akan menemukan banyak kesulitan nantinya.
mengantri, bergantian, toleran, sabar menunggu giliran..semua ini keahlian yang harus dilatih terus menerus dan sering dipraktekkan dengan sparring partner yang seimbang. zahra butuh anak2 sebaya yang frekuensi pertemuan dengannya cukup sering. di sana juga harus ada orang2 dewasa yang memediasi, membantu dia cara memperoleh skill ini.
mengharapkan anak2 tetangga di lingkungan yang individualis ini tidak mungkin, sesering mungkin berkumpul dengan anak2 homeschooler juga tidak mungkin.
satu-satunya tempat yang terlintas di benak saya akhir-akhir ini adalah sekolah.
kembali ke sekolah? ya tuhan....
ingin sekali saya memuntahkan ide itu.
namun bagaimana jika inilah yang zahra butuhkan saat ini?
bagaimana jika ini adalah memang fase yang harus zahra jalani?
siapa yang sebenarnya keberatan?
ya benar, diri saya seorang lah yang keberatan.
saya keberatan dengan segala ide tentang sekolah dengan segala realitas sekolah saat ini serta proyeksi mandiri saya tentang masa depan sekolah.
sementara zahra, dia belum mengerti benar tentang semua itu.
dia belum bisa melihat dari sudut pandang saya, tentang bobroknya sekolah.
yang ada adalah, dia terlihat senang ketika di sekitarnya ada anak-anak sebayanya yang turut bermain dan terlihat senang mendengar suara tawa anak-anak lain.
apakah saya akan mengorbankan idealisme saya tentang belajar jika saya kembali menyekolahkan anak saya? tidakkah itu akan berarti saya memunguti kembali hal yang telah saya muntahkan dengan sadar?
tunggu dulu.
jika saya menyekolahkan kembali anak saya, apakah itu secara literal berarti saya menerima total segala kebobrokan sistem sekolah?
hmm, saya menyekolahkan anak saya karena kenyataannya dia memang butuh mengasah kemampuan sosialnya secara intens. dan dia tampak senang jika ada anak2 yang tertawa bahagaia di sekitarnya.
apakah saya akan manut dan diam saja terhadap bullying? oh, siapa saja yang berani bully anak saya siap-siap berhadapan dengan sisi singa saya :D
apakah saya akan menerima contek terorganisir sebagai hal lazim dan layak di terima? sampai kiamat tidak akan.
apakah saya akan mengajari anak saya melakukan hal apapun demi nilai yang bagus (sesuai standar orang lain) hingga mengorbankan harga diri dan keimanan? lebih baik saya ketimpa meteor deh.
jadi ternyata, agaknya, saya akan selalu bersebrangan ya dengan sistem sekolah serta nilai dan norma yang lazimnya berkembang dan diterima saat ini.
tetep aja anehnya gak ilang-ilang...hehe
hmm, jadi kalau saya sekarang tidak berani melangkah kembali memasukkan anak saya ke institusi sekolah demi mencapai target partikular anak saya (dan saya tentunya), ini namanya saya tidak open minded dan tidak mau belajar hal baru dong yah?
jadinya, saya malah keluar dari kecintaan saya terhadap konsep umum homeschooling dong yah?
hmmm...
bismillah,
jadi sekarang saya akan hunting sekolah yang punya kualitas bagus dan bisa bantu zahra untuk mengembangkan kemampuan sosialisasinya.
sedangkan masalah nilai anak saya nanti di sekolah tersebut, akan selalu ingatkan kepada mereka bahwa itu bukan tujuan utama kami kok. we are not results/scores people...rather, we are process people..hehe
doakan kami yaa :)
inilah yang paling membuat saya ngeri dan sama sekali tidak mau mengambil resiko ini. katanya, jangnkan di sekolah negeri yang bayarannya relatif lebih murah, anak autis yang sekolah di sekolah swasta dengan kualitas internasional (baca: bahasa pengantar bahasa inggris dan bayaran yang super mahal) saja ada saja kasus bully terhadap anak autis nya...
tambah lagi, dengan realita betapa carut marutnya kondisi sistem pendidikan indonesia, yang begitu orientasi pada hasil akhir yang notabene hanya didasarkan pada yang namanya ujian beberapa hari, kecurangan terorganisir yang dianggap lazim serta mulai kelihatannya generasi muda yang kurang kreatif dan tidak terlalu tahu kemahiran unik yang sebenarnya pasti mereka miliki namun tidak sempat tergali karena gaya hidup yang terlalu terorientasi pada pencapaian nilai bagus di sekolah, ini semua benar-benar membuat saya yakin bahwa sekolah itu jauh dari masa depan yang bahagia. malah cenderung suram.
tidak ada ruang untuk sekolah di hati saya
toh, ternyata dengan tidak sekolah selama ini, anak saya mampu melakukan hal-hal yang menjadi materi sekolah untuk anak autis itu. dia bisa melakukan mandiri kegiatan mandi, makan, berpakaian, menyisir, mencuci sepatu, mencuci piring, merapikan tempat tidur, mau ikut membersihkan rumah, ikut mencuci pakaian(dengan mesin), bahkan 2 bulan yang lalu ketika pertama kali saya ajari dia menggunakan komputer, dia bisa saya ajari, dia kini bisa bermain sekitar 6 macam games di komputer. jadi anak saya ternyata bisa kan tanpa sekolah?
saya yakini terus hal itu. pasti bisa. saya hanya perlu mengajarinya dengan rutin.
ya, saya yakin.
tapi, ada hal lain yang sebenarnya selalu terlihat di depan mata saya namun mungkin karena kepala saya sudah terlalu penuh dengan pemikiran "betapa anak saya dan saya mampu"..jadi saya menyisihkan permasalahan ini.
anak saya butuh teman. teman untuk bermain atau pun bertengkar.
dia autis, punya masalah partikular dengan yang namanya komunikasi. vocab nya masih sangat terbatas, artikulasinya masih jauh dari jelas. yang ujungnya, masih sering frustasi karena maksud hatinya sering tidak tersampaikan.
jenis anak semacam ini, tentu saja tidak mudah diterima. terkadang yang tidak dapat menerinya adalah anak sebayanya, namun tidang jarang juga orang tua anak lain lah yang tidak dapat menerima anaknya bergaul dengan anak autis.
berhubung saya selalu yakin, bahwa anak adalah refleksi dari orang tuanya, maka saya pikir yang lebih menentukan adalah faktor orang tuanya. jika ada anak tidak mau menerima/memandang aneh/menganggap nakal/mencemooh anak autis, namun orang tuanya yang baik hati dan pintar dan bermoral tinggi dapat mengarahkan si anak dengan menjelaskan padanya cara menerima perbedaan, pasti anak itu akan dapat dan mau belajar cara menerima dan perduli terhadap anak autis. jadi kuncinya di orang tua.
ternyata, cari model orang tua yang seperti ini susah-susah gampang ya :)
butuh pola pikir tertentu untuk bisa menerima tentang anak autis jika orang tersebut tidak memiliki anak autis. orang tersebut harus open minded tehadap perbedaan, cerdas, perduli, tidak sombong, dan suka belajar hal baru.
nah, semua ciri ini dapat dengan mudah saya temukan pada orang-orang yang menyukai homeschooling, baik yang selaku praktisi homescooling mau pun yang sekedar mencintai konsep HS namun belum berkesempatan mempraktikkannya.
inilah komunitas yang saya cari. orang-orang open minded, cerdas, suka belajar dan rendah hati :)
dan benar saja dugaan saya, anak-anak mereka adalah refleksi orang tua mereka. cerdas, antusias belajar, dan fleksibel terhadap perbedaan. :)
saya senang sekali bersama mereka. anak saya juga terlihat nyaman. suami saya pun kagum dengan keluarga-keluarga homeschooler.
tapi sayang, kebersamaan kami terhitung jarang karena memang tidak memungkin kan untuk rutin bertemu setiap hari dikarenakan faktor jarak dan program kegiatan kami masing-masing. yah, mau bagaimana lagi.
sementara, di lingkungan apartemen kami, suasananya tergolong individualis. adapun anak2 yang sering kami temui di playground umumnya masih batita. kurang cocok buat mengasah kemampuan sosial anak saya yang hampir 9 tahun.
hal ini benar2 mengganggu pikiran saya akhir2 ini. saya lihat, zahra masih amat sangat tidak toleran dengan konsep antri, bergantian dan kepemilikan. sering ini menjadi masalah besar terutama jika di tempat umum. pernah ketika kami berada di restoran fast food, dengan lugunya zahra mengambil perkedel dari meja orang. untung saja orang tersebut menganggap hal itu bukan masalah besar, bahkan ia menganggap zahra lucu sekali karena begitu lugu. namun di waktu lain, pernah kami tidak seberuntung itu. di sebuah playground, zahra yang suka sekali bermain ayunan, tidak mau bergantian dengan anak lainnya. pertama-tama anak-anak itu mengalah, namun akhirnya mereka mengadukan zahra pada orangtua mereka yang akhirnya komplain pada saya. zahra saya suruh bergantian, namun ia malah menjerit nangis. akhirnya orang tua tsb mengajak anaknya pergi dengan wajah tidak suka pada saya dan anak saya.
biasanya, saya memang sering mengajak ngobrol orang yang berada di sekitar saya (orang tua maupun pengasuh) tentang zahra adalah autistik. saya ceritakan sesingkat mungkin tentang sifatnya yang terkesan tidak sabaran dan belum mengerti mengantri/bergantian. biasanya mereka akan mengerti dan cenderung menyuruh anak mereka mengalah pada zahra. tapi saya jadi berpikir, tidak selamanya kan kami bisa begini? zahra akan terus bertumbuh fisiknya. jika dia sudah berukuran anak abg namun masih tidak mengerti cara antri, dan bergantian, pasti dia akan menemukan banyak kesulitan nantinya.
mengantri, bergantian, toleran, sabar menunggu giliran..semua ini keahlian yang harus dilatih terus menerus dan sering dipraktekkan dengan sparring partner yang seimbang. zahra butuh anak2 sebaya yang frekuensi pertemuan dengannya cukup sering. di sana juga harus ada orang2 dewasa yang memediasi, membantu dia cara memperoleh skill ini.
mengharapkan anak2 tetangga di lingkungan yang individualis ini tidak mungkin, sesering mungkin berkumpul dengan anak2 homeschooler juga tidak mungkin.
satu-satunya tempat yang terlintas di benak saya akhir-akhir ini adalah sekolah.
kembali ke sekolah? ya tuhan....
ingin sekali saya memuntahkan ide itu.
namun bagaimana jika inilah yang zahra butuhkan saat ini?
bagaimana jika ini adalah memang fase yang harus zahra jalani?
siapa yang sebenarnya keberatan?
ya benar, diri saya seorang lah yang keberatan.
saya keberatan dengan segala ide tentang sekolah dengan segala realitas sekolah saat ini serta proyeksi mandiri saya tentang masa depan sekolah.
sementara zahra, dia belum mengerti benar tentang semua itu.
dia belum bisa melihat dari sudut pandang saya, tentang bobroknya sekolah.
yang ada adalah, dia terlihat senang ketika di sekitarnya ada anak-anak sebayanya yang turut bermain dan terlihat senang mendengar suara tawa anak-anak lain.
apakah saya akan mengorbankan idealisme saya tentang belajar jika saya kembali menyekolahkan anak saya? tidakkah itu akan berarti saya memunguti kembali hal yang telah saya muntahkan dengan sadar?
tunggu dulu.
jika saya menyekolahkan kembali anak saya, apakah itu secara literal berarti saya menerima total segala kebobrokan sistem sekolah?
hmm, saya menyekolahkan anak saya karena kenyataannya dia memang butuh mengasah kemampuan sosialnya secara intens. dan dia tampak senang jika ada anak2 yang tertawa bahagaia di sekitarnya.
apakah saya akan manut dan diam saja terhadap bullying? oh, siapa saja yang berani bully anak saya siap-siap berhadapan dengan sisi singa saya :D
apakah saya akan menerima contek terorganisir sebagai hal lazim dan layak di terima? sampai kiamat tidak akan.
apakah saya akan mengajari anak saya melakukan hal apapun demi nilai yang bagus (sesuai standar orang lain) hingga mengorbankan harga diri dan keimanan? lebih baik saya ketimpa meteor deh.
jadi ternyata, agaknya, saya akan selalu bersebrangan ya dengan sistem sekolah serta nilai dan norma yang lazimnya berkembang dan diterima saat ini.
tetep aja anehnya gak ilang-ilang...hehe
hmm, jadi kalau saya sekarang tidak berani melangkah kembali memasukkan anak saya ke institusi sekolah demi mencapai target partikular anak saya (dan saya tentunya), ini namanya saya tidak open minded dan tidak mau belajar hal baru dong yah?
jadinya, saya malah keluar dari kecintaan saya terhadap konsep umum homeschooling dong yah?
hmmm...
bismillah,
jadi sekarang saya akan hunting sekolah yang punya kualitas bagus dan bisa bantu zahra untuk mengembangkan kemampuan sosialisasinya.
sedangkan masalah nilai anak saya nanti di sekolah tersebut, akan selalu ingatkan kepada mereka bahwa itu bukan tujuan utama kami kok. we are not results/scores people...rather, we are process people..hehe
doakan kami yaa :)
Sabtu, 25 Juni 2011
Jumat, 24 Juni 2011
hi.. :)
hello, my name is devi. i'm creating this blog as a place where i can keep the portofolio of my kid. her name is zahra nur fathimah, 8 years 10 month. she's an autistic, verbal but very limited vocab and poor articulation.
she doesnt go to school, since we have fallen for homeschooling :)
me and my husband love her so much. we believe that she has so many hidden potencies which are waiting to go up to the surface.
she can pick anything she wants to be, the most important is we want her to be happy.
inshaallah, by the help from Allah, we will be able to be her partner in reaching what she really wants to achieve.
at the moment, i'm the one who runs this site. i hope someday if she likes, she will run this site by herself.
thanks for visiting this site. you are all welcome here. please do comeback anytime you like :)
god bless you all :)
she doesnt go to school, since we have fallen for homeschooling :)
me and my husband love her so much. we believe that she has so many hidden potencies which are waiting to go up to the surface.
she can pick anything she wants to be, the most important is we want her to be happy.
inshaallah, by the help from Allah, we will be able to be her partner in reaching what she really wants to achieve.
at the moment, i'm the one who runs this site. i hope someday if she likes, she will run this site by herself.
thanks for visiting this site. you are all welcome here. please do comeback anytime you like :)
god bless you all :)
Langganan:
Komentar (Atom)

